Get Adobe Flash player

Surat Gembala Pembaruan Janji Imamat 2014

Surat Gembala Pembaruan Janji Imamat 2014

kepada para Rama

di Keuskupan Agung Semarang,

“Allah peduli dan kita menjadi perpanjangan tangan kasih-Nya

untuk melayani”

 

 

 

 

Para Rama yang terkasih,

Masa Prapaska menjadi kesempatan bagi kita semua, seluruh umat dan para gembala, untuk bersama Tuhan Yesus Kristus menemukan kembali dan menegaskan jati diri dan panggilan serta perutusan kita sebagai murid-murid Kristus dalam Gereja-Nya. Kita diutus menjadi berkat bagi siapa pun dan apa pun. Ketika saya diminta untuk berkisah tentang impian saya berkaitan dengan formatio iman pada kesempatan Temu Pastoral 2014, saya kisahkan perjumpaan saya dengan Yesus. Sepanjang hidup-Nya dalam perjumpaan dengan orang-orang lain Yesus menemukan dan menegaskan dirinya, bahwa Dia adalah Anak Allah. Itulah yang menjadi pokok permenungan kita selama masa puasa dan pantang selama 40 hari.

Dalam hidup-Nya kita temukan pengalaman normatif akan Yang Ilahi dalam pergumulan dan penegasannya, bahwa Ia adalah Anak Allah, yang adalah BapaNya. Murid-Murid Kristus dikehendaki-Nya untuk mengikuti-Nya semakin dekat, mengenal semakin dalam, dan mencintai-Nya semakin mesra.

Tidak banyak informasi tentang tahun-tahun kehidupanNya di Nazareth. Penginjil Lukas berkisah tentang peristiwa yang terjadi pada awal masa remaja-Nya, ketika berumur 12 tahun. Peristiwa ketika Yesus tinggal di Bait Allah di Yerusalem untuk merayakan Paska sesuai dengan adat keagamaan waktu itu.

Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau." Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" Memang Ia berada di Bait Allah, tetapi dalam kesadaran-Nya ia berada di rumah Bapa-Nya. Sekembali di Nazareth dinyatakan, bahwa “Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (lh. Luk 2: 41-52).

Hidup-Nya di keluarga Nazareth selama 30 tahun menjadi bagian penting bagi formatio iman-Nya. Kesadaran-Nya pada Yang Ilahi sebagai pribadi yang bermakna semakin matang, dan meyakinkan-Nya untuk meninggalkan kampung halaman-Nya, Nazareth untuk pergi ke Sungai Yordan menjumpai Yohanes. Yesus tidak pergi ke istana raja untuk bertemu dengan Herodes atau Pontius Pilatus, atau pun ke kenisah di Yerusalem untuk bertemu dengan imam Agung, para imam serta ahli-ahli Taurat, tetapi ke Sungai Yordan untuk berjumpa dengan Yohanes, suara yang berseru-seru di padang gurun, mewartakan pertobatan.

Di Sungai Yordan itulah Yesus dibaptis oleh Yohanes. Dan pada peristiwa pembaptisan itu terjadilah pemakluman mengenai diriNya, ketika terdengar suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." (Mat 3: 13-17; Luk 3: 21-22; Mrk 1: 9-11) Pergumulan dalam hati mengenai apa maknanya menjadi Anak Allah terjadi, ketika Ia berada di padang gurun digodai oleh Iblis. Yesus menegaskan, bahwa sebagai Anak Allah Ia tidak mau menjadi tukang sulap yang dapat mengubah batu menjadi roti, tidak pula dengan mengingkari diri-Nya sebagai Anak Allah dengan menyembah Iblis, atau menjadi pemain akrobat yang terjun dari bubungan Bait Allah tanpa cedera. (Bdk. Mat 4:1-11; Lk 4: 1-13; Mrk 1:12-13).

Ketika Yesus dimuliakan di atas gunung jatidiri-Nya sebagai Anak Allah diteguhkan, dengan suara yang terdengar : “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mat. 17:1-13; Mk. 9: 2-13; Luk. 9: 28-36). Menjadi Anak Allah diwujudkan-Nya secara tuntas pada saat kematian-Nya, diakui oleh kepala pasukan yang menyaksikan apa yang terjadi pada diri Yesus, ketika ia berkata, “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.” (Mat. 15:33-41; Luk. 23:44-49). Begitulah caranya Ia menyatakan dan mewujudkan diri sebagai Putera Allah, dengan bersedia mengorbankan diri demi keselamatan semua orang.

Pengalaman hidup Yesus, sebagai Putera Allah, menjadi pola formatio iman bagi setiap orang kristiani, juga bagi kita para gembala, agar menghayati iman secara cerdas, tangguh dan missioner untuk membangun persaudaraan sejati. Kita para gembala dapat melaksanakan tugas penggembalaan kita semakin berbuah bagi umat dengan menjadi panutan serta teladan nyata, bila seluruh hidup kita menjadi kesaksian iman akan Allah yang hidup. Hidup iman kita , kerukunan kita di antara para imam dapat menjadi pewartaan yang mudah ditangkap oleh umat.

Para Rama yang terkasih,

Sebagai bagian dari formatio iman tersebut selama masa Prapaska para Rama telah kami ajak untuk mengadakan gerakan spiritualitas dan pewujudan nyata di komunitas /pastoran berdasarkan inspirasi dari Bapa Suci Paus Fransiskus yang menuangkan gagasan-gagasan segar, penuh suka cita Injili, dalam Ajakan Apostolik “Evangelii Gaudium”, 24 November 2013. Perjumpaan pribadi dengan Yesus sebagai sumber sukacita karena dikasihi Allah merupakan daya kekuatan bagi perutusan untuk mewartakan kabar sukacita kepada segala makhluk. Melalui Rekoleksi Imam “Penyegaran Imamat” sebelum Misa Krisma, Senin-Selasa, 14-15 April 2014, kita olah bersama bahan pendalaman mengenai suka cita Injil dalam hidup imam yang bersaksi dengan gembira. Saya menganjurkan Ajakan Apostolik tersebut dijadikan bahan bacaan rohani, agar hidup kita disegarkan, dan pelayanan kita mendapatkan pencerahan, sehingga iman dikuatkan, harapan dimantapkan dan kasih diwujudkan dengan murah hati.

Formatio iman yang terjadi dalam kehidupan Yesus menjadi pola bagi kita juga bagaimana iman kita telah dibentuk dalam keluarga sebagai seminari dasar, maupun dalam pendidikan formal di seminari-seminari, serta berbagai pendidikan lanjut di tempat-tempat lain. Melalui orangtua dan saudari-saudara kita, para guru, dosen, formator, pembimbing dengan melibatkan umat, kita diantar untuk menerima anugerah imamat khas dengan tahbisan imamat jabatan untuk pelayanan dalam Gereja. Pembaruan janji imamat yang kita lakukan setiap tahun menjadi kesempatan bagi kita untuk bersyukur kepada Dia yang memanggil kita, dan untuk berterima kasih kepada begitu banyak orang yang telah kita jumpai dalam perjalanan panggilan kita.

Berkat sakramen-sakramen inisiasi kita semua orang beriman kristiani dipanggil menjadi anak-anak Allah dalam diri Yesus, Anak Allah. Kita dipersatukan sebagai anggota-anggota Tubuh Kristus, yaitu Gereja-Nya. Kita yang dibabtis karena kelahiran kembali dan pengurapan Roh Kudus disucikan menjadi kediaman rohani dan imamat suci. Dan, sebagai gembala umat kita juga telah dianugerahi martabat imamat yang secara khas diterimakan melalui Sakramen, yang melambangkan, bahwa para imam, berkat pengurapan Roh Kudus, ditandai dengan meterai istimewa, dan dengan demikian dijadikan serupa dengan Kristus Sang Imam, sehingga mereka mampu bertindak dalam pribadi Kristus Kepala (bdk. Presbyterorum Ordinis 2; Lumen Gentium 10). Dalam pribadi Kristus Kepala kita bertindak mengambil bagian dalam melaksanakan tritugas Kristus Nabi, Imam dan Gembala untuk membangun, menguduskan dan membimbing Tubuh-Nya. Berpola pada tritugas Kristus ini, Bapa-Bapa Konsili Vatikan II menguraikan fungsi-fungsi imam sebagai pelayan sabda Allah, sebagai pelayan sakramen-sakramen, dan sebagai pemimpin umat Allah (Presbyterorum Ordinis 4, 5, 6).

Hidup dan pelayanan para imam semakin berbuah, bila para imam seperti ranting-ranting tinggal dalam Kristus, pokok anggur yang benar (bdk. Yoh. 15: 1-8) . Dengan begitulah suka cita Injil dialami, sebagaimana ditegaskan oleh Bapa Suci Fransiskus, “Sukacita Injil mengisi hati dan kehidupan semua orang yang berjumpa dengan Yesus.” (Evangelii Gaudium, 1). Sukacita Injil dialami oleh murid Kristus dalam segala peristiwa kehidupan, juga bila kita siap untuk menempatkan seluruh hidup kita, bahkan untuk menjadi martir, dalam memberikan kesaksian akan Yesus Kristus. (bdk. Evangelii Gaudium, 24)

Hidup kita sebagai imam memuat pengalaman-pengalaman beraneka, yang membanggakan, maupun yang memrihatinkan. Kelemahan diri menyadarkan kita, bahwa memang hanya Allahlah kekuatan kita. Sedangkan kekuatan yang kita sadari ada pada diri kita sesungguhnya berasal dari Allah pula, yang hendaknya kita syukuri dengan rendah hati. Ancaman yang muncul dalam hidup kita dapat membuat kita justru semakin cerdas untuk mengubah ancaman itu menjadi kesempatan, agar hidup semakin bermakna. Suka duka kehidupan membentuk kita menjadi imam yang beriman tangguh. Bila hidup sedang berada dalam terang, memang terasa semuanya lancar, namun bila sedang dalam kegelapan, toh kita menjadi lebih terlatih untuk menyalakan lilin meskipun kecil, daripada mengutuk kegelapan tersebut. Bahkan pengalaman dosa, oleh karena daya kekuatan rahmat Allah, mampu membuat hati kita menyesal, dan bertobat untuk hidup lebih baik. O, felix culpa! Dosa yang membahagikan, berkat belaskasih dan kerahiman Allah. Ibarat sebuah batu hidup kita terbentuk menjadi halus, dengan terbentur-bentur oleh peristiwa-peristiwa kehidupan. Allah dasar kehidupan kita adalah Allah yang peduli pada kita, agar tidak ada satu pun diantara kita hilang.

Para Rama yang terkasih,

Tuhan kita Yesus Kristus dalam melaksanakan tugas perutusan menghadirkan Kerajaan Allah tidak sendirian. Ia memanggil orang-orang untuk menjadi murid-murid-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Di sekitar Yesus ada kelompok 12 (Luk. 5: 12-19), di antara mereka ada tiga yang diajak-Nya mengalami peristiwa-peristiwa istimewa (Mark. 5.35- 42; Mat. 26.36- 38; Luk. 9: 28). Ada juga sejumlah orang, 70 murid diutus-Nya untuk berbagi damai dan mewartakan Kerajaan Allah (Luk. 10: 1-12). Ada juga perempuan-perempuan yang melayani-Nya (Luk. 8: 3). Terbangunlah persahabatan di antara mereka, karena Tuhan memang tidak memperlakukan mereka sebagai hamba, tetapi sebagai sahabat, seperti telah dikatakan-Nya, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” (Yoh. 15:15).

Saya sebagai rekan seimamat, mengajak para Rama, mari kita pererat persahabatan di antara kita, persahabatan murid-murid Tuhan. Dalam kenyataannya di antara para imam pun terasa ada lingkaran-lingkaran intimitas dalam persahabatan. Dalam persahabatan antar-rekan seimamat kita menemukan ruang tempat kita merasa aman, ketika kita jujur terbuka satu sama lain mengutarakan isi hati dan perasaan apa adanya. Rekan-rekan setahbisan imamat merupakan lingkaran persahabatan yang meneguhkan karena memuat sejarah panggilan kita sebagai imam. Rekan-rekan sepastoran merupakan lingkaran rekan-rekan sekerja yang bisa berbeda dalam usia dan pengalaman kerja. Kehidupan bersama para imam hendaknya. menjadi kesaksian hidup umat Allah, yang kita fahami sebagai persekutuan dari paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus. Lingkaran-lingkaran persahabatan itu dapat juga dibangun karena kesatuan wilayah, kesamaan spiritualitas, kesamaan perutusan dan penugasan. Apa pun alasan terbentuknya diharapkan hubungan kita dengan rekan-rekan seimamat bertumbuh dan berkembang menjadi persahabatan murid-murid Tuhan. Di antara para imam berkembang kesediaan dan kesiapan saling membantu untuk menyembuhkan luka, saling melengkapi dalam kekurangan, sehingga di antara para imam terbangun persaudaraan antar-imam. Tentang persaudaran antar-imam ini Bapa-Bapa Konsili Vatikan II menegaskan, “Berkat Tahbisan, yang menempatkan mereka pada tingkat imamat biasa, semua imam bersatu dalam persaudaraan sakramental yang erat sekali.” (Presbyterorum Ordinis 8).

Para Rama yang terkasih,

Melalui berbagai peristiwa kehidupan tersebut bersama dan melalui rekan-rekan seimamat dan banyak orang lain Allah membentuk dan melatih kita, agar kita menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk melayani dengan menjadi gembala baik, yang mengenal “bau domba”, yang hidupnya juga mengalami peristiwa yang beraneka. Dalam menapaki perjalanan hidup ini tidak sedikit orang yang seperti domba berbau anyir karena luka-luka yang diderita karena penyakit, kemiskinan, serta terpuruk oleh berbagai masalah yang merusak kehidupan. Mutu kepedulian kita para gembala pada korban ditentukan juga oleh pengalaman sendiri sebagai yang terluka, untuk menyembuhkan yang terluka. Gembala yang baik dengan sukacita meninggalkan tempat nyaman, dan bersedia “blusukan” mencari yang hilang. Dan seperti orang Samaria yang baik hatinya tergerak oleh belaskasih peduli merawat mereka yang menjadi korban dalam perjalanan hidup.

Kita para imam yang hidup dan berkarya di Keuskupan Agung Semarang ini ditetapkan sebagai bagian dari Gereja Papa Miskin. Saya berharap dengan demikian kita sebagai bagian dari Gereja Keuskupan Agung Semarang tidak sekedar menyandang nama Gereja Papa Miskin, tetap benar-benar menjadi Gereja Papa Miskin. Bila tidak demikian, maka Gereja Keuskupan Agung Semarang kehilangan jati dirinya sebagai Gereja Papa Miskin. Dengan kata-kata Bapa Suci Fransiskus, kita diteguhkan untuk berani menyatakan keinginan kita, “Saya ingin Gereja yang papa miskin dan untuk mereka yang papa miskin. Mereka memiliki banyak hal untuk mengajari kita. Mereka tidak hanya berbagi dalam rasa iman, tetapi dalam kesulitan mereka mengenali sengsara Kristus. Kita perlu membiarkan diri kita diinjili oleh mereka. Evangelisasi baru adalah ajakan untuk mengakui daya penyelamatan yang sedang bekerja dalam hidup mereka, dan menempatkan mereka pada pusat peziarahan Gereja. Kita dipanggil untuk menemukan Kristus di dalam mereka, untuk menyuarakan perkara-perkara mereka, juga menjadi teman mereka, mendengarkan mereka, untuk bersuara bagi mereka, dan merengkuh kebijaksanan penuh misteri yang dikehendaki Allah dibagikan kepada kita melalui mereka.” (Evangelii Gaudium 198).

Marilah kita mewujudkan Gereja papa miskin dalam hidup kita secara nyata, dalam sikap kita yang dengan rendah hati mengandalkan Tuhan, yang tulus dan bersukacita melayani umat dengan sungguh-sungguh, yang bertangguhjawab dalam melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan kepada kita. Apabila kita telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepada kita, hendaklah kita berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." (Luk. 17: 10)

Para Rama yang terkasih,

Marilah kita berdoa bagi rekan-rekan imam, yang karena berbagai alasan, sakit atau usia lanjut, yang meskipun tidak lagi melaksanakan tugas pastoral, tetap menjadi pendoa bagi kita.

Kita mohon kepada Tuhan, agar Ia senantiasa memanggil anak-anak untuk menjadi imam, dan memberikan gembala-gembala kepada umat-Nya,. Semoga hidup kita sendiri sebagai imam tetap memikat dan memantapkan para calon untuk tekun belajar, merawat benih panggilan, agar benih panggilan itu berakar mendalam, mekar dan berbuah pada kehendak kuat, yaitu hasrat yang murni pada imamat, namung satunggal esti imam Dalem Gusti”.

Semoga Maria, hamba Allah dan bunda Gereja, bunda para imam mendampingi kita, agar kita bersukacita mewartakan Injil kepada segala makhluk. Salam, doa dan Berkah Dalem,

Semarang, 9 April 2014

+ Johannes Pujasumarta

Uskup Agung Semarang

 

SURAT GEMBALA HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA Ke-68

SURAT GEMBALA

HARI RAYA KEMERDEKAAN

REPUBLIK INDONESIA Ke-68

dibacakan pada Sabtu-Minggu, 17-18 Agustus 2013

“Mengisi Kemerdekaan Dengan Peradaban Kasih.”

Saudari dan saudaraku terkasih dalam Tuhan,

1. Pada tanggal 17 Agustus 2013 kita rayakan Hari Raya Kemerdekaan Indonesia yang ke-68. Kita bersyukur karena kemerdekaan telah dikaruniakan kepada bangsa Indonesia atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa. Kemerdekaan sebagai rahmat Allah diakui pula oleh pejuang kemerdekaan negeri ini dengan menyatakannya dalam naskah Pembukaan UUD 1945 “Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Pada Hari Raya Kemerdekaan ini kita ingin menegaskan lagi, bahwa kemerdekaan bangsa ini terjadi berkat rahmat Allah yang Mahakuasa. Dengan demikian, sejarah bangsa kita pun menjadi bagian dari sejarah keselamatan Allah. Cinta kepada tanah air merupakan tanggungjawab sejarah untuk mengisi kemerdekaan dengan peradaban kasih.

2. Kita juga bersyukur, bahwa pendiri negeri ini membangun suatu sikap yang arif dan bijaksana dalam memperjuangkan dan melestarikan kemerdekaan Indonesia. Sungguh arif dan bijaksanalah, bila para pemimpin negeri ini mengemban kekuasaan negara untuk melindungi seluruh bangsa dan tumpah darah Indonesia, yakni dengan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial sebagaimana dituangkan dalam prinsip dasar kehidupan negara ini, yakni dalam sila-sila Pancasila.

Apa yang bisa kita lakukan?

3. Sepanjang perjalanan 68 tahun, negeri ini memang telah mengalami banyak kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan. Kita saksikan kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan tehnologi yang berdampak dalam kehidupan masyarakat kita. Fasilitas-fasilitas kehidupan modern bagi kehidupan dewasa ini tersedia, dan tidak ketinggalan dari negara-negara sekitarnya. Namun, kita bisa bertanya, untuk siapa kemajuan itu? Bila kesejahteraan tidak merata bagi seluruh rakyat Indonesia, berarti nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 belum terwujud semestinya. Apa yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan cinta kita kepada tanah air kita?

Ketika negara ini membutuhkan keterlibatan warganya untuk mengisi kemerdekaan, apakah kita peduli pada negeri ini? Jangan sampai kita ikut merusak negeri ini, tanpa malu melanggar hukum dengan terang-terangan, memperparah sakit masyarakat sehingga mati rasa terhadap nilai-nilai moral dan etika. Kita berprihatin, dari waktu ke waktu semakin lemah tenggang rasa antar warga, bahkan agama pun bisa dijadikan alasan untuk membenci, dan dengan kekerasan melukai kerukunan hidup bertetangga warga masyarakat. Ternyata kita belum merdeka dari kuasa dosa yang merajalela di negeri ini.

Kita sadari, bahwa kita masih belum terlibat tuntas mengelola kemerdekaan karena belum sungguh-sungguh mewujudkan cinta kepada tanah air kita.

Mengisi kemerdekaan dengan mempertahankan Pancasila

4. Bagi kita para murid Kristus, keteladanan Tuhan Yesus Kristus sebagai penegak kebenaran dan pengajar kebajikan menjadi pegangan utama untuk mewujudkan cinta kepada tanahair dan setia mengisi kemerdekaan Indonesia. Cinta kepada tanahair terwujud dalam kesungguhan kita untuk mempertahakan Pancasila dan UUD 1945. Kesungguhan kita teruji karena dewasa ini kita sadari pula ada usaha-usaha untuk merongrong dasar Negara itu. Kalau dasar Negara rapuh, akan tumbanglah bangunan Negara Republik Indonesia ini.

Dengan cinta kepada tanah air, umat Katolik memilih untuk mengisi kemerdekaan dengan rela melakukan apa yang baik (bdk. 1Ptr 2:13-17), yaitu dengan: membangun persaudaraan - bukan menceraiberaikan; menghormati sesama - bukan merendahkan; mengasihi sesama - bukan menyingkirkan orang lain karena berbeda suku, agama, ras dan golongan. Umat Katolik sebagai warga Negara yang bertanggungjawab memberikan apa yang wajib diberikan kepada Negara, dan kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah (bdk. Mat 22:21).

Agustus Bulan Ajaran Sosial Gereja

5. Saudara-saudariku terkasih,

Untuk merawat kesadaran kita, bahwa sejarah bangsa kita pun menjadi bagian dari sejarah keselamatan Allah, kita jadikan bulan Agustus sebagai Bulan Ajaran Sosial Gereja. Pesan pokok Ajaran Sosial Gereja adalah pesan bagi kita semua untuk membangun peradaban kasih.

Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan ajaran penting dari Bapa Suci Paus Fransiskus, yang ditulisnya dalam Ensiklik “Lumen Fidei”, Terang Iman, 29 Juni 2013. Bapa Suci menyatakan, bahwa iman adalah terang yang khas, yang mampu menyalakan setiap aspek kehidupan manusia. Bapa Suci menyadarkan kita, semakin kita beriman secara benar, semakin kita tidak melupakan penderitaan dunia, tetapi semakin kitamembuka diri pada kenyataan kegelapan dengan kehadiran yang selalu mendampingi, membangun sebuah sejarah kebaikan yang menyentuh setiap kisah penderitaan manusia pada zaman kita.

Kita harus berani menyatakan, bahwa iman akan Kristus adalah sungguh-sungguh baik untuk pembangunan negara ini karena akan menghadirkan terang bagi kebaikan bersama. Iman Katolik justru akan membantu membangun masyarakat kita sedemikian rupa, sehingga bangsa ini dapat melakukan perjalanan menuju masa depan penuh pengharapan. Bapa Suci mengingatkan kita, agar kita mewujudkan iman kita semakin menjadi berkat bagi seluruh bangsa.

Demikian pula sebagaimana diungkapkan dalam semangat ARDAS KAS 2011-2015, bahwa iman yang mendalam dan tangguh akan semakin signifikan dan relevan dalam kehidupan kita sebagai warga Gereja dan masyarakat. Tanggungjawab kita mengisi kemerdekaan dan mewujudkan pembaruan dalam tindakan keterlibatan yang nyata sebagaimana dirumuskan dalam 4 pilar ARDAS KAS, merupakan perwujudan iman akan Allah yang Mahakuasa dan cinta kepada tanah air.

Membangun peradaban kasih

6. Saudara-saudariku terkasih,

Saya mengajak Anda sekalian, umat Allah di Keuskupan Agung Semarang, agar mengisi kemerdekaan dengan membangun peradaban kasih. Untuk itu hendaknya (1) sejak dalam keluarga perlu ditumbuh-kembangkan rasa cinta kepada sesama dan lingkungan kehidupan di mana Anda berada, agar anak-anak yang kita cintai hidup dalam “peradaban kasih” , memiliki rasa handarbeni (rasa memiliki) dan dimiliki negeri ini. Selanjutnya (2) lembaga-lembaga pendidikan formal perlu mengajarkan pendidikan kebangsaan dan “pendidikan peradaban kasih” yang terencana sebagai isi dari ”Sekolah Cinta Kasih”, agar memahami nilai-nilai dasar Pancasila dan Ajaran Sosial Gereja. Melalui pendidikan formal yang baik, saya berharap, generasi muda makin memiliki pegangan moral untuk terlibat membangun “peradaban kasih” di negeri tercinta ini. (3) Sangat penting pula bidang-bidang pelayanan dalam Dewan Paroki memberikan ruang dan perhatian khusus bagi kaderisasi agar umat Katolik siap sedia menjadi patriot sejati. Dan tentu saja (4) masyarakat sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya pribadi perlu menghembuskan atmosfir yang mendukung suasana kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik dan benar, Hendaknya kita berani berpegang pada prinsip hidup yang mengutamakan kesejahteraan umum, dengan menghidupi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, sebagai perwujudan cinta kita kepada tanahair secara kritis dan bertanggungjawab.

7. Menuju PEMILU 2014 marilah kita belajar terus agar mampu memaknai peristiwa-peristiwa bangsa sebagai tanda-tanda zaman dalam terang Ajaran Sosial Gereja. Dengan bimbingan hati nurani yang terdidik secara benar kita akan menjadi pemilih yang cerdas dan kritis dalam menentukan pemimpin negeri ini. Dengan demikian kita akan mampu memilih pemimpin yang arif dan bijaksana, rendah hati namun sigap, tegas dan kreatif mengupayakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

8. Akhirnya, marilah kita yang tinggal di negeri ini, yang memiliki tanggungjawab sejarah pada negeri ini, yang dihidupi Tuhan dalam negeri ini, mencintainya, mengisinya dengan kemerdekaan sejati, dengan melakukan segala perbuatan baik yang menghasilkan kebaikan bagi semua.

Selamat dan proficiat atas kemerdekaan yang dikaruniakan Allah kepada kita. Selamat mengisi kemerdekaan dengan peradaban kasih. Dirgahayu, Indonesia! Salam, doa dan Berkah Dalem.


Semarang, 15 Agustus 2013


+ Johannes Pujasumarta

Uskup Keuskupan Agung Semarang

 

More Articles...

Agenda Kegiatan

October 2014
S M T W T F S
28 29 30 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31 1

User Online

We have 49 guests online

Form Login